Sabtu, 02 Januari 2016

Kajao Lalliddong (Cendekiawan dari Kerajaan Bone)

Ada 5 orang cendekiawan yang terkenal dalam perjalanan sejarah kerajaan Bugis, yakni
1.                  Kajao Laliddo (cendekiawan kerajaan Bone),
Kajao Lalliddong : Pemikir dan Penasehat Kerajaan

marsallawo.blogspot.com - Kajao Lalliddong atau Kajao Lalli’do, yang berarti orang cerdik pandai dari kampung Lalliddong, adalah seorang cendekiawan dari Kerajaan Bone pada masa sebelum Islam masuk ke wilayah Sulawesi Selatan. Kajao Laliddong dikenal sebagai orang yang paling berperan dalam menciptakan pola dasar pemerintahan Kerajaan Bone pada abad ke-16 masa pemerintahan raja Bone ke-6 La Uliyo Bote’E (1543-1568) dan raja Bone ke-7 Tenri Rawe BongkangngE (1568-1584). Pada masa pemerintahan La Tenri Rawe Bongkange, kerajaan Bone mengalami perkembangan sangat pesat berkat sumbangsih fikiran Kajao Lalliddong. Namun, tak banyak orang yang mengetahui kisah panjangnya karena hanya disampaikan oleh orang-orang terdahulu kepada anak cucu mereka sebagai pengantar tidur. Sehingga banyak yang beranggapan bahwa kisah Kajao Lalliddong hanyalah kisah fiktif belaka.

Kajao Lalliddong diperkirakan sejaman dengan filsuf politik Italia, Nicolo Machiavelli. Akan tetapi, pemikiran Kajao Lalliddong menganjurkan agar penguasa lebih jujur dan bijaksana, sedangkan Machiavelli mengabaikan etika atau moral dalam pertarungan politik. Menurut WS Rendra, pemikiran Kajao Lalliddong mengenai adat, peradilan, yurisprudensi, dan tata-pemerintahan sudah cukup lengkap. Bahkan, pemikiran Kajao Laliddong itu mendahului “kode Napoleon”. 

Selasa, 20 Oktober 2015

Sejarah Nusantara Pada Era Kerajaan Islam



"Sesungguhnya pada kisah-kisah sejarah generasi terdahulu terdapat pengajaran (`ibrah) bagi orang-orang yang menggunakan akal." (Al-Qur'an, Surat Yusuf 111)

Sejarah Nusantara pada era kerajaan Islam
Kerajaan Islam di Indonesia diperkirakan kejayaannya berlangsung antara abad ke-13 sampai dengan abad ke-16. Timbulnya kerajaan-kerajaan tersebut didorong oleh maraknya lalu lintas perdagangan laut dengan pedagang-pedagang Islam dari Arab, India, Persia, Tiongkok, dll. Kerajaan tersebut dapat dibagi menjadi berdasarkan wilayah pusat pemerintahannya, yaitu di Sumatera, Jawa, Maluku, dan Sulawesi.

Mesjid Demak salah satu peninggalan Kerajaan Islam di indonesia

1. Kerajaan Islam di Sumatera
Periode tahun tepatnya kerajaan-kerajaan Islam di Sumatera masih simpang siur dan memerlukan rujukan lebih lanjut.
Kesultanan Perlak 

 
Kesultanan Peureulak adalah kerajaan Islam di Indonesia yang berkuasa di sekitar wilayah Peureulak, Aceh Timur, Aceh sekarang antara tahun 840 sampai dengan tahun 1292.[r] Perlak atau Peureulak terkenal sebagai suatu daerah penghasil kayu perlak, jenis kayu yang sangat bagus untuk pembuatan kapal, dan karenanya daerah ini dikenal dengan nama Negeri Perlak. Hasil alam dan posisinya yang strategis membuat Perlak berkembang sebagai pelabuhan niaga yang maju pada abad ke-8, disinggahi oleh kapal-kapal yang antara lain berasal dari Arab dan Persia. Hal ini membuat berkembangnya masyarakat Islam di daerah ini, terutama sebagai akibat perkawinan campur antara saudagar muslim dengan perempuan setempat.



1. Hikayat Aceh
Naskah Hikayat Aceh mengungkapkan bahwa penyebaran Islam di bagian utara Sumatera dilakukan oleh seorang ulama Arab yang bernama Syaikh Abdullah Arif pada tahun 506 H atau 1112 M. Lalu berdirilah kesultanan Peureulak dengan sultannya yang pertama Alauddin Syah yang memerintah tahun 520–544 H atau 1161–1186 M. Sultan yang telah ditemukan makamnya adalah Sulaiman bin Abdullah yang wafat tahun 608 H atau 1211 M.[1]

Buku Zhufan Zhi , yang ditulis Zhao Rugua tahun 1225, mengutip catatan seorang ahli geografi, Chou Ku-fei, tahun 1178 bahwa ada negeri orang Islam yang jaraknya hanya lima hari pelayaran dari Jawa.[2] Mungkin negeri yang dimaksudkan adalah Peureulak, sebab Chu-fan-chi menyatakan pelayaran dari Jawa ke Brunai memakan waktu 15 hari. Eksistensi negeri Peureulak ini diperkuat oleh musafir Venesia yang termasyhur, Marco Polo, satu abad kemudian. Ketika Marco Polo pulang dari Cina melalui laut pada tahun 1291, dia singgah di negeri Ferlec yang sudah memeluk agama Islam.[3]

FeedCount